BE A FORGIVING PERSON
Terkadang, kita sangat sensitif
jika mendengar kata maaf. Ada yang dengan mudah percaya ada pula yang butuh
bukti akan kata maaf tersebut. Meminta maaf itu memang mudah. Tapi jangan sampai
menyepelekan ya..
الْإِنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَأ وَ النِّسْيَان
“Manusia itu tempatnya salah dan lupa”
Begitulah sifat
manusia. Maka ketika merasa diri ini telah berbuat kesalahan, segeralah meminta
maaf. Baik itu kesalahan yang dilakukan terhadap Allah maupun terhadap orang
lain. Hidup ini tidak akan tenang jika di sekitar ada yang tersakiti oleh diri
kita sendiri. Apabila melakukan kesalahan terhadap Allah, segeralah bertaubat,
datangi Dia di sepertiga malam, kemudian bersujudlah, menangislah, dan mohonlah
ampunan kepada-Nya. Jika kata maaf itu datangnya dari hati serta diiringi janji
tidak akan mengulangi kembali, In Syaa Allah Dia akan mengampuni kita. Karena
Dia Maha Pengampun.
Dan apabila memiliki
kesalahan kepada sesama manusia, segera sadari itu dan meminta maaf padanya.
Karena kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Maka
jika diantara manusia ada masalah, kepada siapa akan meminta bantuan? Kita tidak
bisa menyelesaikannya sendirian. Oleh karena itu, jika dirasa ada sesuatu hal
yang mengganjal di sekeliling kita, segera cari tahu dan selesaikan. Meminta
maaf bukan perbuatan yang menghinakan. Justru meminta maaf adalah perbuatan
yang mulia. Orang yang meninta maaf terlebih dahulu dan belum tentu dia bersalah
adalah orang yang berani dan selalu memprioritaskan persatuan.
Ada orang mendatangi
kita untuk meminta maaf, lantas kita harus apa? Memaafkan adalah yang terbaik.
Memang tidak mudah, apalagi jika hati kita sudah tersakiti. Tapi ingat, Allah
memberikan ampunan dan pahala yang besar bagi orang yang mudah memaafkan
kesalahan orang lain.
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhamnu
dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi
orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang
berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 133-134)
Selain itu, junjungan
kita Nabi Muhammad SAW pun
mencontohkan agar kita memaaafkan kesalahan orang lain. Diceritakan dalam
sebuah riwayat:
Terdapat seorang kakek
yang tengah duduk di salah satu sudut pasar di kota Madinah. Kakek ini adalah
pengemis Yahudi buta. Dia mencaci maki Nabi Muhammad dan mendustakannya.
“Muhammad itu pembohong, tukang sihir”, begitu dia katakan. Mendengar langsung
perkataan pengemis tadi, Rasulullah tidak marah dan membencinya. Melainkan
menghampiri dan memberikannya dinar emas. Tidak sampai disitu, Rasulullah pun
menyuapinya makanan setiap hari dan memperlakukannya dengan baik. Pengemis ini
tetap saja mencaci maki dan menghina Nabi Muhammad. Dia tidak tahu siapa yang
berbuat baik kepadanya itu. Rasulullah sangat sabar, meskipun dihina. Dan
Beliau tetap bersikap lemah lembut terhadap pengemis itu. Hingga suatu ketika,
Rasulullah pun wafat. Suatu hari, Abu Bakar mendatangi rumah Rasulullah dan
bertanya kepada ‘Aisyah “Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku
kerjakan?”. ‘Aisyah menjawab, “Wahai Ayah, Engkau adalah sahabat Nabi yang
paling dekat. Tidak ada kebiasaan Nabi yang belum pernah ayah lakukan, kecuali
satu. Setiap pagi di kala Rasulullah melewati pasar, Beliau menyempatkan diri
menyuapi seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana”. Mendengar hal
tersebut, maka Abu Bakar hendak melakukan kebiasaan Rasulullah yang belum Ia
kerjakan ini. Abu Bakar pun pergi menuju pasar dan menemui pengemis itu.
Sesampainya di sana, pengemis tersebut menanyakan “Kemana saja engkau? Sudah
lama tidak datang. Duduklah, mana makanan untukku?”. Kemudian Abu Bakar menyuapinya
makanan. Seperti biasa, pengemis ini masih saja menghina Rasulullah SAW. Mendengar celotehan pengemis buta,
Abu Bakar menjadi geram. Sehingga Abu Bakar menyuapinya dengan sedikit kasar.
Pengemis mejadi marah “Engkau kasar sekali. Aku rasa engkau orang yang berbeda.
Siapa engkau sebenarnya?”. “Aku orang yang biasa memberikanmu makanan”, jawab
Abu Bakar. “Bohong, orang yang biasa mendatangiku selalu menyapaku dengan lemah
lembut, menanyakan kabarku, membesarkan jiwaku dan menyuapiku dengan penuh
kesabaran dan kasih sayang. Belum pernah aku temui orang sebaik itu”, ucap
pengemis. “Engkau benar, aku memang bukan orang yang biasa menyuapimu. Aku
adalah salah seorang dari sahabatnya. Namaku Abu Bakar. Orang yang biasa
menyuapimu sudah meninggal 2 hari yang lalu”, jelas Abu Bakar. Pengemis buta
itu terkejut dan bersedih mendengar berita tersebut. “Sebenarnya, dia adalah
Muhammad. Rasulullah SAW”, lanjut Abu
Bakar. Bagai disambar petir, pengemis itu menangis sejadi-jadinya di pundak Abu
Bakar. Dia menyesali segala perbuatannya. Kemudian Dia memeluk agama Islam.
Demikianlah,
Rasulullah tidak pernah membenci, melainkan mamaafkan kesalahannya. Padahal
sudah dicela, dihina, dan lain sebagainya. Maka mari kita tiru akhlaq
Rasulullah yang satu ini, yakni senantiasa memaafkan kesalahan orang lain; baik
muslim maupun kafir. Selain itu, bukankah Allah sudah memerintahkan kita untuk
menjadi orang yang pemaaf?
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ
الْجَاهِلِيْنَ
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan
yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raf: 199)
-Maafkanlah,
karena kita Bukan Sang Hakim-
Komentar
Posting Komentar