Jadikan Allah Prioritasmu
Ada cerita singkat, dan ini adalah
pengalaman pribadi saya. Pada tanggal 10 Maret 2018, saya melakukan perjalanan
dari rumah (Bogor) menuju asrama (Jakarta). Alhamdulillah saya berkesempatan
untuk kuliah di salah satu universitas negeri di Jakarta. Singkat cerita, saat
itu saya sampai di Stasiun Manggarai tepat pada saat adzan Ashar. Biasanya memang
saya suka sholat terlebih dahulu jika sudah masuk waktunya atau sudah terdengar
adzan. Tapi kali ini, saya berfikiran untuk sholat di asrama saja, karena
barang bawaan saya banyak dan cukup repot. Dengan perasaan berat hati, akhirnya
saya lewati Musholla itu. Bismillah saya memesan ojek online menuju Asrama.
Alhamdulillah ada driver yang mau nerima. Namun di tengah perjalanan ada masalah.
Motor yang saya naiki kehabisan bensin. Perasaan saya memang sudah tidak enak dari sebelumnya. Dan masalahnya saya belum
kenal Jakarta dengan luas. Dan saya gatau posisi saya saat itu dimana, di jalan
apa. Kemudian turun hujan yang cukup sedang.
Allah mungkin menegur saya karena saya
tidak menyegerakan panggilan-Nya. Langkah kaki saya malah mudah melewati
rumah-Nya. Padahal mampir sebentar memenuhi panggilan-Nya bukan perkara berat.
Ya, saat itu saya ditegur. Dan setelah itu saya coba pesan ojek online lagi,
menunggu cukup lama hingga Alhamdulillah drivernya datang.
Mungkin pengalaman saya di atas bagi sebagian orang hanya cerita biasa. Tapi bagi saya, ini sungguh luar biasa. Saya mendapatkan pelajaran yang begitu berharga. Saya harus jadikan Allah sebagai prioritas, karena pada dasarnya orientasi manusia hidup di dunia ini memang hanya untuk Allah. Hanya untuk beribadah kepada Allah.
Mungkin pengalaman saya di atas bagi sebagian orang hanya cerita biasa. Tapi bagi saya, ini sungguh luar biasa. Saya mendapatkan pelajaran yang begitu berharga. Saya harus jadikan Allah sebagai prioritas, karena pada dasarnya orientasi manusia hidup di dunia ini memang hanya untuk Allah. Hanya untuk beribadah kepada Allah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلاَّ
لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”
(QS. Adz-Dzariyat : 56)
Ketika adzan dikumandangkan, ketika panggilan-Nya
tiba, Hayya ‘alas Shalaah, Hayya ‘alal Falaah, bagaimana
tanggapan kita? Segera memenuhi panggilan-Nya atau malah berleha-leha dan
santai? Saudaraku, mari kita bermuhasabah. Seringkali kita lalai. Tidak
memenuhi panggilan-Nya dengan segera. Alasannya banyak sekali. Kita katakan
bahwa kita sibuk, kita sedang mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan,
hingga akhirnya “nanti saja lah kalau urusan ku telah selesai, aku segera
sholat”. Setelah ditunda-tunda, kita lelah, capek dan kemudian sholat pun tidak
dilaksanakan. Begitulah manusia, disibukkan urusan dunia dan melupakan pencipta
dunia. Ketika dipanggil atasan atau bos, kita segera menghadap. Tapi, ketika
Bos yang sesungguhnya memanggil, kita justru tidak menghiraukan. Saya pernah
mendengar lantunan sholawat yang dilantunkan oleh ibu-ibu pengajian. Begini
bunyinya:
Shubuh kesiangan.. Dzuhur kerepotan.. Ashar di perjalanan.. Maghrib kecapean.. Isya ketiduran..
Liriknya cukup menggelitik, tapi benar juga. Dan saya rasa banyak orang yang demikian. Jika kiranya diri kita yang seperti itu, mari beristighfar..
Atau pada kasus yang lain, kita hanya beribadah dan
berdo’a kepada-Nya ketika kita sedang berada dalam kesusahan. Ketika cobaan dan
ujian sedang menghujan. Setiap kali adzan dikumandangkan, kita segera memenuhi
panggilan-Nya. Beribadah dengan khusu’, berdzikir dengan penuh penghayatan.
Namun ketika segala kenikmatan sudah kembali ke tangan kita, kita justru lupa
siapa yang sudah memberikan kembali kenikmatan itu kepada kita. Tangan terasa
berat untuk berinfaq. Begitu pun kaki begitu susah untuk menginjak rumah Allah.
Adapun hati, sama sekali tidak mengingat sang pencipta. Lagi-lagi begitulah
karakter manusia.
“Sesungguhnya manusia dicipkatan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan sholatnya” (QS. Al-Ma’aarij : 19-23)
Akankah kita berlarut dalam karakter yang demikian? Guru saya pernah berpesan, “keadaan iman kalian harus IMAN MANDIRI, jangan IMAN KONDISIONAL” Maksudnya, dalam keadaan apapun, baik susah maupun senang, kita tetap beriman kepada Allah. Tetap mendirikan sholat awal waktu serta menjadikan Allah prioritas. Jangan beriman kepada Allah hanya dalam keadaan senang. Lalu jika dalam keadan susah kita meninggalkan-Nya. Na’udzubillah min dzaalik.
Luangkan seluruh waktu kita untuk Allah. Bukan waktu
luang yang kita berikan. Allah ko dikasih waktu sisaan? Emang mau dapet rezeki
sisaan dari orang lain? Mau dapet jodoh sisaan? Lucu rasanya jika kita hidup di
dunia, tapi sama sekali ga inget sama pencipta dunia ini. Saya ingin berpesan
untuk pembaca dan khusunya untuk diri saya sendiri. Berikan yang terbaik untuk
Allah. Dalam penghambaan kepada-Nya, dalam mengingat-Nya dan dalam
mencintai-Nya. Jangan menunggu waktu luang, karena malaikat izroil menjemput
kita bisa kapan saja.
Komentar
Posting Komentar