PEMINPIN ATAU PEMIMPI
Dalam KBBI, pemimpin diartikan sebagai orang yang
memimpin. Menurut Kartono (2010:18), pemimpin adalah seorang
pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan
kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu memengaruhi orang lain untuk
bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau
beberapa tujuan.
Sedangkan pemimpi dalam KBBI memiliki arti: pertama, orang yang suka bermimpi
meskipun tidak tidur, kedua, orang
yang suka mengkhayal.
Pemimpin dan pemimpi adalah kata yang tidak bisa
dipisahkan. Dua kata ini memiliki korelasi. Setelah kita mengetahui arti dari
pemimpin dan pemimpi, lantas apa yang menghubungkan antara keduanya? Dan apa
yang membedakannya?
Pada hakikatnya, pemimpin adalah seorang pemimpi.
Contoh, seorang pemimpin memiliki mimpi untuk memakmurkan negerinya. Tanpa
sebuah mimpi, itu berarti bahwa dirinya tidak memiliki tujuan. Jika tidak
memiliki tujuan, untuk apa menjadi pemimpin? Berbicara mengenai pemimpin, ini
bukan hal yang mudah. Apalagi memimpin banyak orang dengan ‘kepala’ yang
berbeda-beda. Ada yang ingin ini, ada yang ingin itu. Ada yang menuntut ini,
ada yang menuntut itu. Maka sebelum menjadi pemimpin bagi orang lain, mulailah
menjadi pemimpin bagi diri sendiri.
“Orang
yang cerdik adalah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan selalu
beramal untuk bekal hidup sesudah mati. Orang yang lemah adalah yang
memperturutkan hawa nafsunya dan selalu berhayal muluk terhadap Allah” (HR. Abu Daud)
Na’udzubillah, jangan sampai kita menjadi orang yang lemah, orang
yang selalu memperturutkan hawa nafsu. Jika kita mampu melawan hawa nafsu, maka
kita dikatakan sebagai seorang mujahid (orang yang berjihad di jalan Allah).
Sebagaimana hadits Nabi:
Dari Fadhalah bin ‘Ubaid, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهد نَفْسه
“Mujahid adalah orang yang berjihad terhadap hawa nafsunya” (HR.
at-Tirmidzi)
Setelah kita berhasil menjadi pemimpin bagi diri sendiri, maka dengan spontan kita akan selalu berbuat dan beramal baik tanpa harus disuruh orang lain. Ketika demikian, maka kita sudah layak menjadi pemimpin bagi orang lain. Mengapa? Karena kita sudah mampu menjadi teladan bagi mereka. Maka jadilah kita sebagai pemimpin dengan sejuta mimpi. Mimpi yang baik dan mimpi yang bukan sekedar mimpi, melainkan mimpi yang akan terwujud. Oleh karena itu, jangan pernah mau menjadi pemimpin yang tidak bisa mewujudkan mimpi. Atau jangan pernah memilih pemimpin yang demikian. Pemimpin yang hanya bercita-cita, namun tidak ada aksi. Dia tidak pantas dikatakan pemimpin. Dia hanya pantas dikatakan sebagai PEMIMPI.
Hanya satu yang membedakan antara Pemimpin dan Pemimpi, yaitu huruf N. N adalah singkatan dari NATO, yang merupakan karakter dari seorang pemimpi. Yakni Nothing Action Talk Only (tidak ada amalnya tapi banyak janjinya). Maka jika kita menemukan pemimpin yang demikian, pandai berjanji, melontarkan seribu iming-iming, dengan tegas dipastikan dia BUKAN PEMIMPIN. Melainkan hanya seorang PEMIMPI atau Pemimpin di Republik Mimpi.
-“Pemimpin atau Pemimpi, semua ada di tangan mu hendak
memilih yang mana”-
Komentar
Posting Komentar